IKLAN

SELAMAT DATANG DI PORTAL PONPES DARUL FALAH- SIMAK DAN UPDATE SELALU INFORMASI TERBARU SETIAP SAAT

Senin, 19 Januari 2015

ANAK NAKAL, ORANG TUA & SOLUSI BAGI MEREKA



Apa Yang membuat Anak Bisa berubah menjadi Baik?

Pendidikan Itu penting
TAUSIYAH-Tidak akan pernah ada orang tua yang menginginkan anaknya tidak berhasil atau sukses walaupun keberhasilan dan kesuksesan anak itu sangat relative, setidaknya Orang tua di rumah sering dihadapkan dengan anak-anaknya yang ‘dianggap’ nakal kelewat batas. Sebenarnya kenakalan anak tersebut separah apa?
Anak boleh anda sekolahkan di Sekolah-Sekolah Unggulan dengan program dan biaya yang hebat luar biasa tapi anda tetap tidak pernah terpuaskan ada saja yang membuat anda sebagai orang tua menjadi pusing tujuh keliling. Anak Pulang larut malam, mengurung diri didalam kamar, candu terhadap rokok, game online bahkan bergabung dengan anak-anak gerombolan bermotor hingga boros & semua membuat anda nyaris frustasi & putus asa
Perlawanan anak darah daging anda tidak tanggung-tanggung. Dari kata-kata kasar hingga mengancam keluarga sendiri. Ada yang membuat anda tertegun dengan perjalanan hidup seorang bapak dan ibu yang ingin anaknya menjadi baik seperti anak tetangga (misalnya). Sopan, pergi pulang sekolah tepat waktu,  tidak boros, mau membantu orang tua dan seribu kebaikan lainnya.
Kamu ini mau jadi apa nak? Kamu ini harus masuk pesantren nak!, kamu itu…. Kamu itu.. dan sejuta kalimat harapan yang berharap di dengar oleh anak kita sendiri. Sementara anak kita cuek-bebek dengan dunianya.
Adakah yang Salah?
Kasus ini banyak terjadi di banyak masyarakat kota dengan lingkungan metropolis, masyarakat yang disibukkan dengan dunia kerja pagi pulang petang hingga anak tak mendapat sentuhan pendidikan orang tua. Terlalu mempercayai sekolah untuk merubah sifat, karakter kurang baik anak-anak kita kepada guru-gurunya namun tidak mengevaluasi lingkungan anak sepulang sekolah. So What ?So Why, How?
Anak kita adalah darah daging kita, semua sifat yang dimiliki bapak dan ibunya diyakini aka nada yang menitis kepada anak-anak kita jika tidak factor lingkungan akan sangat besar mempengaruhi seorang anak. Apa yang mereka baca, Siapa teman mereka & dimana dia tinggal akan memberikan budaya hidup anak-anak anda
Memulai dengan do’a & Merubah Sikap diri kita Sendiri
Orang tua yang baik bukan hanya ingin anaknya berubah baik dengan Sekolah atau pesantren tetapi Bapak & Ibunya sendiri telah memiliki ‘nawaitu’ merubah diri sedikit demi sedikit tentang kekurangan dlam segala hal. Apa yang pernah dilakukan secara salah di taubati dan meminta pada ALLOH SWT agar sifat tidak baik kita tidak menitis pada keturunan kita sendiri. Sekolah, Pesantren dan lembaga apapun yang berkompeten untuk mendidik anak-anak anda hanyalah mesin dengan metode, cara, tekhnis yang berjalan dari aspek teori praktek. Tapi Hubungan Bapak/Ibu ke Anak lebih prinsipil secara bathin, maka berbicaralah pada ALLOH SWT tentang keinginan kita melalui do’a dan shalat selanjutnya lakukan pengawasan dan evaluasi pada pendidikan anak anda, dekatlah kepada anak-anak anda dalam salah atau benarnya agar mereka mau berbicara. Jangan menghakimi, menyumpah serapah atau berbicara yang tidak pantas, karena semua akan berdampak negative
Di Pondok Pesantren Darul Falah yang sederhana ini kami membawa pada situasi yang memungkinkan anak-anak anda berubah menjadi lebih baik secara lebih cepat @bersambung

Selasa, 13 Januari 2015

TALI IKATAN BATHIN ANAK KE ORANG TUA SANGAT ERAT

Pengajian Orangtua Santri
Study-Kasusnya adalah anak ditinggal di Pesantren berbulan-bulan tak mendapat biaya apapun, tak dibekali uang, pakaian & perlengkapan belajar lainnya. Orang Tua hidup asyik dengan kehidupannya sendiri padahal anaknya sedikit demi sedikit berubah menjadi baik ataupun semakin baik. Anak merasa teranaktirikan dan tertinggal dalam segala hal di Pesantren yang mengakibatkan rasa minder berlebih dan mengakibatkan anak tersebut berulah lari dari Pesantren. Permasalahannya bukan karena tidak ada yang menanggung biaya tapi ikatan bathin Bapak & Ibu kepada anaknya begitu kuat yang bisa berdampak langsung terhadap prilaku anak tadi. Karenanya bukan hanya anaknya yang belajar shalat tapi Ibu & bapaknya juga harus terus berubah menjadi baik & Lebih baik@insya alloh berkah

Rabu, 31 Desember 2014

PANTAU ANAK-ANAK DI PESTA PERGANTIAN TAHUN BARU

EFORIA 2015-Eforia perayaan tahun baru masehi sudah menjadi lumrah dimasyarakat Indonesia, namun sering kali hal yang dianggap lumrah ini menjadi malapetaka bagi kita sekalian. anak-anak usia remaja tengah menjalani libur semester disekolahnya, menjadi kesempatan tersendiri dan jika tidak pandai menjaga diri akan terjerumus kepada keadaan yang tak diinginkan

Perayaan Tahun baru sebaiknya tidak berlebihan dan mengundang malapetaka, para orangtua harus ekstra waspada dengan anak-anak mereka, cegah mereka keliaran malam, awasi pergaulan dan pantau selalu keberadaan mereka terutama saat bersama teman-temannya

Semoga kita diberikan Alloh SWT kekuatan bathin mendidik anak-anak kita menjadi shaleh dan shalehah untuk bekal kita diakherat kelak.amien@ridwan hartiwan

Senin, 10 November 2014

JANGAN PUTUS ASA MENDIDIK ANAK

Sesungguhnya Shalat itu Mencegah perbuatan Keji dan Munkar, demikian pesan Alloh SWT dalam Al-Qur'an. Ayat ini menjadi pondasi penting bagi setiap pendidik setidaknya bagi yang menginginkan perubahan untuk menjadi lebih baik bagi anak-didiknya 

Ragam metode untuk menjinakkan anak anak nakal, hyper aktif dan kendala lainnya disikapi berbeda oleh lembaga pendidikan, sementara di Pondok Pesantren Darul Falah penanganan yang humanis serta pendidikan melalui Shalat 5 waktu menjadi metode yang abadi dan selalu dikedepankan. 

Shalat 5 waktu menjadi penting karena didalamnya memiliki kandungan berharga, apalagi dengan i'tikaf dan kegiatan yang dilakukan di Masjid secara temporer oleh siswa diharapkan bisa memberikan solusi lebih cepat memperbaiki karakter dan akhlak santri 

seorang anak akan terkait dengan lingkungannya, kedua orang tua hingga masa kecil yang dilaluinya. tak semudah membalikkan telapak tangan, tapi dengan usaha yang tepat dan do'a semua yang di ihktiarkan akan membuahkan hasil@ridwanhartiwan

Kamis, 06 November 2014

6 Ciri Karakter Anak Bermasalah

“Mungkinkah mengetahui dan memastikan apakah seorang anak itu bermasalah, dalam waktu 5-10 menit pertama saat kita bertemu dengannya?” Jawabannya adalah “mungkin” dan “pasti”. Itu pertanyaan yang sering saya ajukan kepada peserta seminar ataupun para orangtua yang sedang bersemangat belajar dan mencecar saya dengan berbagai pertanyaan seputar anaknya.
Rahasia tersebut akan saya bahas sekarang, rahasia yang sering saya gunakan untuk menganalisa seorang anak. Apakah dia bermasalah, bahkan setelah mempelajarinya dengan seksama kita mampu meramal masa depan seorang anak. Wow, tenang ini bukan obral janji, tapi ini pasti. Dari hasil menangani berbagai kasus keluarga dan individu maka terbentuklah suatu pola yang akurat ditiap individu. Kebanyakan klien saya jika memiliki masalah, kebanyakan masalah tersebut  dan sebagian besar masalah itu berasal dari 2 hal. Ini juga rahasia (Rahasia dari ruang terapi saya), tapi akan saya bongkar habis.
Baiklah 2 hal tersebut berasal dari :
  • Keluarga (keluarga yang membentuk masalah tersebut secara tidak sengaja).
  • Masalah tersebut berasal dari usia 7 tahun kebawah.

Keluarga, adalah faktor penting dalam pendidikan seorang anak. Karakter seorang anak berasal dari keluarga. Dimana sebagian sampai usia 18 tahun anak-anak diIndonesia menghabiskan waktunya 60-80 % bersama keluarga. Manusia berbeda dengan binatang (maaf..) seekor anak kucing yang baru lahir, bisa hidup jika dipisahkan dari induknya, dan banyak binatang yang lain yang memiliki kemampuan serupa. Manusia tidak bisa, sampai usia 18 tahun masih membutuhkan orangtua dan kehangatan dalam keluarga. Sukses seorang manusia tidak lepas dari “kehangatan dalam keluarga”. Akan sangat banyak hal yang akan dikupas dari tiap tahun kehidupan manusia dan kebutuhannya serta cara memenuhi kebutuhan tersebut, terutama aspek emosi. Saya tidak akan meneruskannya, kita akan bahas dikesempatan lainnya, kini kita kembali ke cara mengetahui ciri anak bermasalah.
Usia 7 tahun kebawah? Ada apa pada usia ini? Pada masa ini kebanyakan (85%) letak masalah atau asal muasal masalah / hambatan seorang manusia tercipta. Istilah kerennya Mental Block. Karakter yang menghabat pencapaian cita-cita pribadi kita. Dan biasanya akan terasa pada usia 22 tahun ke atas. Woo… segitunya? Ya Mental Block seperti program yang seakan-akan dipersiapkan (karena ketidak sengajaan dan ketidak tahuan orangtua kita) untuk menghambat berbagai macam aspek dalam kehidupan kita. Aspek itu bisa berupa Karier (takut kaya, takut jabatan tinggi) kesehatan (tubuh gemuk, alergi) Relationship (tidak gampang cocok dengan pasangan/teman, paranoid) dan lain hal, serta masih banyak lagi.
Ada apa dengan 7 tahun kebawah dan disekitar 7 tahun pertama kehidupan manusia? Baiklah saya jelaskan, pada masa ini kita membutuhkan, kebutuhan dasar Emosi yang harus terpenuhi ingat HARUS terpenuhi. Jika pada masa ini lewat dan tidak terpenuhi  maka, akan terjadi Mental Block pada diri anak tersebut. Inilah asal muasal dimana Mental Block terbentuk. Karena tidak terpenuhinya kebutuhan dasar Emosi yang dibutuhkan seorang manusia. Kebutuhan apa yang dibutuhkan pada anak seusia itu? Sehingga fatal akibatnya (pada masa dewasa anak tersebut) jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi

Ada 3 kebutuhan yang harus dipenuhi pada anak usia 0 – 7 tahun bahkan lebih, cara ini adalah kunci dalam pendidikan karakter, agar karakter anak kita bisa tumbuh dan berkembang maksimal. Disamping itu ketiga hal inilah asal muasal Mental Block yang sering kali terjadi atau terasa sangat menganggu pada saat anak tersebut dewasa. Yaitu :

1. Kebutuhan akan rasa aman
2. Kebutuhan untuk mengontrol
3. Kebutuhan untuk diterima
3 kebutuhan dasar emosi tersebut harus terpenuhi agar anak kita menjadi pribadi yang handal dan memiliki karakter yang kuat menghadapi hidup. Ini akan sangat panjang sekali jika dijelaskan, nah mengingat kita membahas ciri – ciri karakter anak bermasalah maka kita akan kembali ke topic tersebut.

Sebenarnya ada 6 ciri karakter anak yang bermasalah, cukup kita melihat dari perilakunya yang nampak maka, kita sudah dapat melakukan deteksi dini terhadap “musibah besar” dikehidupan yang akan datang (baca: semakin dewasa) dan secepatnnya dapat melakukan perbaikan.
Inilah ciri-ciri karakter tersebut :
1. Susah diatur dan diajak kerja sama
Hal yang paling Nampak adalah anak akan membangkang, akan semaunya sendiri, mulai mengatur tidak mau ini dan itu. pada fase ini anak sangat ingin memegang kontrol. Mulai ada “pemberontakan” dari dalam dirinya. Hal yang dapat kita lakukan adalah memahaminya dan kita sebaiknya menanggapinya dengan kondisi emosi yang tenang.
Ingat akan kebutuhan dasar manusia? Tiga hal diatas yang telah saya sebutkan, nah kebutuhan itu sedang dialami anak. Kita hanya bisa mengarahkan dan mengawasi dengan seksama.
2. Kurang terbuka pada pada Orang Tua
Saat orang tua bertanya “Gimana sekolahnya?” anak menjawab “biasa saja”, menjawab dengan malas, namun anehnya pada temannya dia begitu terbuka. Aneh bukan? Ini adalah ciri ke 2, nah pada saat ini dapat dikatakan figure orangtua tergantikan dengan pihak lain (teman ataupun ketua gang, pacar, dll). Saat ini terjadi kita sebagai orangtua hendaknya mawas diri dan mulai menganti pendekatan kita.
3. Menanggapi negatif
Saat anak mulai sering berkomentar “Biarin aja dia memang jelek kok”, tanda harga diri anak yang terluka. Harga diri yang rendah, salah satu cara untuk naik ke tempat yang lebih tinggi adalah mencari pijakan, sama saat harga diri kita rendah maka cara paling mudah untuk menaikkan harga diri kita adalah dengan mencela orang lain. Dan anak pun sudah terlatih melakukan itu, berhati-hatilah terhadap hal ini. Harga diri adalah kunci sukses di masa depan anak.
4. Menarik diri
Saat anak terbiasa dan sering Menyendiri, asyik dengan duniannya sendiri, dia tidak ingin orang lain tahu tentang dirinya (menarik diri). Pada kondisi ini kita sebagai orangtua sebaiknya segera melakukan upaya pendekatan yang berbeda. Setiap manusia ingin dimengerti, bagaimana cara mengerti kondisi seorang anak? Kembali ke 3 hal yang telah saya jelaskan. Pada kondisi ini biasanya anak merasa ingin diterima apa adanya, dimengerti – semengertinya dan sedalam-dalamnya.
5. Menolak kenyataan
Pernah mendengar quote seperti “Aku ini bukan orang pintar, aku ini bodoh”, “Aku ngga bisa, aku ini tolol”. Ini hampir sama dengan nomor 4, yaitu kasus harga diri. Dan biasanya kasus ini (menolak kenyataan) berasal dari proses disiplin yang salah. Contoh: “masak gitu aja nga bisa sih, kan mama da kasih contoh berulang-ulang”.
6. Menjadi pelawak
Suatu kejadian disekolah ketika teman-temannya tertawa karena ulahnya dan anak tersebut merasa senang. Jika ini sesekali mungkin tidak masalah, tetapi jika berulang-ulang dia tidak mau kembali ke tempat duduk dan mencari-cari kesempatan untuk mencari pengakuan dan penerimaan dari teman-temannya maka kita sebagai orang tua harap waspada. Karena anak tersebut tidak mendapatkan rasa diterima dirumah, kemanakah orangtua?

@sumber >http://www.pendidikankarakter.com