IKLAN

SELAMAT DATANG DI PORTAL PONPES DARUL FALAH- SIMAK DAN UPDATE SELALU INFORMASI TERBARU SETIAP SAAT

Rabu, 18 Februari 2015

FRUSTASI NGURUSI ANAK NAKAL?

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. Fenomena Kenakalan Anak

Fenomena ini merupakan perkara besar yang cukup memusingkan dan menjadi beban pikiran para orangtua dan pendidik, karena fenomena ini cukup merata dan dikeluhkan oleh mayoritas masyarakat, tidak terkecuali kaum muslimin.

Padahal, syariat Islam yang sempurna telah mengajarkan segala sesuatu kepada umat Islam, sampai dalam masalah yang sekecil-kecilnya, apalagi masalah besar dan penting seperti pendidikan anak.

2. Sebab kenakalan anak menurut aturan Islam

Termasuk sebab utama yang memicu penyimpangan akhlak pada anak, bahkan pada semua manusia secara umum, adalah godaan setan yang telah bersumpah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyesatkan manusia dari jalan-Nya yang lurus.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Iblis (setan) berkata, ‘Karena Engkau telah menghukumi saya tersesat, sungguh saya akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat kepada-Mu).’”
(QS. Al-A’raf: 16-17).
Dalam upayanya untuk menyesatkan manusia dari jalan yang benar, setan berusaha menanamkan benih-benih kesesatan pada diri manusia sejak pertama kali mereka dilahirkan ke dunia ini, untuk memudahkan usahanya selanjutnya setelah manusia itu dewasa.
Di samping sebab utama di atas, ada faktor-faktor lain yang memicu dan mempengaruhi penyimpangan akhlak pada anak, berdasarkan keterangan dari ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertama, pengaruh didikan buruk kedua orangtua

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Semua bayi (manusia) dilahirkan di atas fithrah (kecenderungan menerima kebenaran Islam dan tauhid), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya (beragama) Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Hadits ini menunjukkan bahwa semua manusia yang dilahirkan di dunia memiliki hati yang cenderung kepada Islam dan tauhid, sehingga kalau dibiarkan dan tidak dipengaruhi maka nantinya dia akan menerima kebenaran Islam. Akan tetapi, kedua orang tuanyalah yang memberikan pengaruh buruk, bahkan menanamkan kekafiran dan kesyirikan kepadanya.

(Di antara contoh pengaruh buruk tersebut adalah) jika seorang ibu tidak memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), tidak menjaga kehormatan dirinya, sering keluar rumah (tanpa ada alasan yang dibenarkan agama), suka berdandan dengan menampakkan (kecantikannya di luar rumah), senang bergaul dengan kaum lelaki yang bukan mahram-nya, dan lain sebagainya, maka ini (secara tidak langsung) merupakan pendidikan (yang berupa) praktik (nyata) bagi anaknya, untuk (mengarahkannya kepada) penyimpangan (akhlak) dan memalingkannya dari pendidikan baik yang membuahkan hasil yang terpuji, berupa (kesadaran untuk) memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), menjaga kehormatan dan kesucian diri, serta (memiliki) rasa malu. Inilah yang dinamakan ‘pengajaran pada fitrah (manusia)’.”
Kedua, pengaruh lingkungan dan teman bergaul yang burukRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Perumpamaan teman duduk (bergaul) yang baik dan teman duduk (bergaul) yang buruk (adalah) seperti pembawa (penjual) minyak wangi dan peniup al-kiir (tempat menempa besi). Maka, penjual minyak wangi bisa jadi memberimu minyak wangi atau kamu membeli (minyak wangi) darinya, atau (minimal) kamu akan mencium aroma yang harum darinya. Sedangkan peniup al-kiir (tempat menempa besi), bisa jadi (apinya) akan membakar pakaianmu atau (minimal) kamu akan mencium aroma yang tidak sedap darinya.”

Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan duduk dan bergaul dengan orang-orang yang baik akhlak dan tingkah lakunya, karena adanya pengaruh baik yang ditimbulkan dengan selalu menyertai mereka. Hadits tersebut sekaligus menunjukkan larangan bergaul dengan orang-orang yang buruk akhlaknya dan pelaku maksiat karena pengaruh buruk yang ditimbulkan dengan selalu menyertai mereka.
Ketiga, sumber bacaan dan tontonan
Pada umumnya, anak-anak mempunyai jiwa yang masih polos, sehingga sangat mudah terpengaruh dan mengikuti apa pun yang dilihat dan didengarnya dari sumber bacaan atau berbagai tontonan.
Oleh karena itulah, metode pendidikan dengan menampilkan contoh figur untuk diteladani adalah termasuk salah satu metode pendidikan yang sangat efektif dan bermanfaat.
Beberapa contoh cara mendidik anak yang nakal

Syariat Islam yang agung mengajarkan kepada umatnya beberapa cara pendidikan bagi anak yang bisa ditempuh untuk meluruskan penyimpangan akhlaknya. Di antara cara-cara tersebut adalah:

Pertama, teguran dan nasihat yang baikIni termasuk metode pendidikan yang sangat baik dan bermanfaat untuk meluruskan kesalahan anak. Metode ini sering dipraktikkan langsung oleh pendidik terbesar bagi umat ini, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, misalnya ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang anak kecil yang ketika sedang makan menjulurkan tangannya ke berbagai sisi nampan makanan, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (sebelum makan), dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah (makanan) yang ada di hadapanmu.“

Serta dalam hadits yang terkenal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada anak paman beliau, Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Wahai anak kecil, sesungguhnya aku ingin mengajarkan beberapa kalimat (nasihat) kepadamu: jagalah (batasan-batasan/ syariat) Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan/ syariat) Allah maka kamu akan mendapati-Nya dihadapanmu.” .
Demikianlah bimbingan yang mulia dalam syariat Islam tentang cara mengatasi penyimpangan akhlak pada anak, dan tentu saja taufik untuk mencapai keberhasilan dalam amalan mulia ini ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, banyak berdoa dan memohon kepada-Nya merupakan faktor penentu yang paling utama dalam hal ini.
Rujukan :
Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 4/482.
HSR. Muslim, no. 262HSR. Muslim, no. 2865HSR. Muslim, no. 2367HSR. Bukhari no. 1319, dan Muslim no. 2658Lihat kitab ‘Aunul Ma’bud: 12/319–320HSR. Bukhari no. 5214, dan Muslim no. 2628HSR. Bukhari no. 5061, dan Muslim no. 2022
Sumber : http://ppgaceh.blogspot.com/2013/05/penyebab-anak-nakal-dan-cara.html
                                                                                                                                                        (Sumber: Net)

Senin, 19 Januari 2015

ANAK NAKAL, ORANG TUA & SOLUSI BAGI MEREKA



Apa Yang membuat Anak Bisa berubah menjadi Baik?

Pendidikan Itu penting
TAUSIYAH-Tidak akan pernah ada orang tua yang menginginkan anaknya tidak berhasil atau sukses walaupun keberhasilan dan kesuksesan anak itu sangat relative, setidaknya Orang tua di rumah sering dihadapkan dengan anak-anaknya yang ‘dianggap’ nakal kelewat batas. Sebenarnya kenakalan anak tersebut separah apa?
Anak boleh anda sekolahkan di Sekolah-Sekolah Unggulan dengan program dan biaya yang hebat luar biasa tapi anda tetap tidak pernah terpuaskan ada saja yang membuat anda sebagai orang tua menjadi pusing tujuh keliling. Anak Pulang larut malam, mengurung diri didalam kamar, candu terhadap rokok, game online bahkan bergabung dengan anak-anak gerombolan bermotor hingga boros & semua membuat anda nyaris frustasi & putus asa
Perlawanan anak darah daging anda tidak tanggung-tanggung. Dari kata-kata kasar hingga mengancam keluarga sendiri. Ada yang membuat anda tertegun dengan perjalanan hidup seorang bapak dan ibu yang ingin anaknya menjadi baik seperti anak tetangga (misalnya). Sopan, pergi pulang sekolah tepat waktu,  tidak boros, mau membantu orang tua dan seribu kebaikan lainnya.
Kamu ini mau jadi apa nak? Kamu ini harus masuk pesantren nak!, kamu itu…. Kamu itu.. dan sejuta kalimat harapan yang berharap di dengar oleh anak kita sendiri. Sementara anak kita cuek-bebek dengan dunianya.
Adakah yang Salah?
Kasus ini banyak terjadi di banyak masyarakat kota dengan lingkungan metropolis, masyarakat yang disibukkan dengan dunia kerja pagi pulang petang hingga anak tak mendapat sentuhan pendidikan orang tua. Terlalu mempercayai sekolah untuk merubah sifat, karakter kurang baik anak-anak kita kepada guru-gurunya namun tidak mengevaluasi lingkungan anak sepulang sekolah. So What ?So Why, How?
Anak kita adalah darah daging kita, semua sifat yang dimiliki bapak dan ibunya diyakini aka nada yang menitis kepada anak-anak kita jika tidak factor lingkungan akan sangat besar mempengaruhi seorang anak. Apa yang mereka baca, Siapa teman mereka & dimana dia tinggal akan memberikan budaya hidup anak-anak anda
Memulai dengan do’a & Merubah Sikap diri kita Sendiri
Orang tua yang baik bukan hanya ingin anaknya berubah baik dengan Sekolah atau pesantren tetapi Bapak & Ibunya sendiri telah memiliki ‘nawaitu’ merubah diri sedikit demi sedikit tentang kekurangan dlam segala hal. Apa yang pernah dilakukan secara salah di taubati dan meminta pada ALLOH SWT agar sifat tidak baik kita tidak menitis pada keturunan kita sendiri. Sekolah, Pesantren dan lembaga apapun yang berkompeten untuk mendidik anak-anak anda hanyalah mesin dengan metode, cara, tekhnis yang berjalan dari aspek teori praktek. Tapi Hubungan Bapak/Ibu ke Anak lebih prinsipil secara bathin, maka berbicaralah pada ALLOH SWT tentang keinginan kita melalui do’a dan shalat selanjutnya lakukan pengawasan dan evaluasi pada pendidikan anak anda, dekatlah kepada anak-anak anda dalam salah atau benarnya agar mereka mau berbicara. Jangan menghakimi, menyumpah serapah atau berbicara yang tidak pantas, karena semua akan berdampak negative
Di Pondok Pesantren Darul Falah yang sederhana ini kami membawa pada situasi yang memungkinkan anak-anak anda berubah menjadi lebih baik secara lebih cepat @bersambung

Selasa, 13 Januari 2015

TALI IKATAN BATHIN ANAK KE ORANG TUA SANGAT ERAT

Pengajian Orangtua Santri
Study-Kasusnya adalah anak ditinggal di Pesantren berbulan-bulan tak mendapat biaya apapun, tak dibekali uang, pakaian & perlengkapan belajar lainnya. Orang Tua hidup asyik dengan kehidupannya sendiri padahal anaknya sedikit demi sedikit berubah menjadi baik ataupun semakin baik. Anak merasa teranaktirikan dan tertinggal dalam segala hal di Pesantren yang mengakibatkan rasa minder berlebih dan mengakibatkan anak tersebut berulah lari dari Pesantren. Permasalahannya bukan karena tidak ada yang menanggung biaya tapi ikatan bathin Bapak & Ibu kepada anaknya begitu kuat yang bisa berdampak langsung terhadap prilaku anak tadi. Karenanya bukan hanya anaknya yang belajar shalat tapi Ibu & bapaknya juga harus terus berubah menjadi baik & Lebih baik@insya alloh berkah

Rabu, 31 Desember 2014

PANTAU ANAK-ANAK DI PESTA PERGANTIAN TAHUN BARU

EFORIA 2015-Eforia perayaan tahun baru masehi sudah menjadi lumrah dimasyarakat Indonesia, namun sering kali hal yang dianggap lumrah ini menjadi malapetaka bagi kita sekalian. anak-anak usia remaja tengah menjalani libur semester disekolahnya, menjadi kesempatan tersendiri dan jika tidak pandai menjaga diri akan terjerumus kepada keadaan yang tak diinginkan

Perayaan Tahun baru sebaiknya tidak berlebihan dan mengundang malapetaka, para orangtua harus ekstra waspada dengan anak-anak mereka, cegah mereka keliaran malam, awasi pergaulan dan pantau selalu keberadaan mereka terutama saat bersama teman-temannya

Semoga kita diberikan Alloh SWT kekuatan bathin mendidik anak-anak kita menjadi shaleh dan shalehah untuk bekal kita diakherat kelak.amien@ridwan hartiwan

Senin, 10 November 2014

JANGAN PUTUS ASA MENDIDIK ANAK

Sesungguhnya Shalat itu Mencegah perbuatan Keji dan Munkar, demikian pesan Alloh SWT dalam Al-Qur'an. Ayat ini menjadi pondasi penting bagi setiap pendidik setidaknya bagi yang menginginkan perubahan untuk menjadi lebih baik bagi anak-didiknya 

Ragam metode untuk menjinakkan anak anak nakal, hyper aktif dan kendala lainnya disikapi berbeda oleh lembaga pendidikan, sementara di Pondok Pesantren Darul Falah penanganan yang humanis serta pendidikan melalui Shalat 5 waktu menjadi metode yang abadi dan selalu dikedepankan. 

Shalat 5 waktu menjadi penting karena didalamnya memiliki kandungan berharga, apalagi dengan i'tikaf dan kegiatan yang dilakukan di Masjid secara temporer oleh siswa diharapkan bisa memberikan solusi lebih cepat memperbaiki karakter dan akhlak santri 

seorang anak akan terkait dengan lingkungannya, kedua orang tua hingga masa kecil yang dilaluinya. tak semudah membalikkan telapak tangan, tapi dengan usaha yang tepat dan do'a semua yang di ihktiarkan akan membuahkan hasil@ridwanhartiwan