IKLAN

SELAMAT DATANG DI PORTAL PONPES DARUL FALAH- SIMAK DAN UPDATE SELALU INFORMASI TERBARU SETIAP SAAT

Selasa, 10 Maret 2015

Anak Malas Sekolah, Game Online, Kabur Kaburan, Pulang Tengah Malam

Seperti Teh Yang menghangatkan keluarga
Pergaulan-Payah pergaulan anak muda dari waktu-ke waktu utamanya di Kota kota besar di Indonesia, kehidupan glamour dan mewah menyeret mereka pada kehidupan bebas yang menjerumuskan. Anak-anak usia SD, SMP dibiarkan merokok, kelayapan malam dan menjadi anak malam yang meninggalkan rumah-rumah mereka yang menjadi saksi bisu kasih sayang orang tua. 

Kesibukan orang tua yang mengakibatkan anak terlepas 'liar' menyandra hati dan pikiran orang tua, keinginan orang tua selalu tak sesuai dengan keinginan anak, perang batin apalagi jika ditambah disharmonis urusan keluarga 

Problem seperti ini dirasakan oleh para orang tua di Jakarta dan kota-kota besar lainnya, dan puluhan sekolah tak menangani siswa khusus ini, alasannya sekolah standar dan jika pesantren harus yang berkarakter khusus penanganan anak.

Pondok Pesantren Darul Falah berulang kali menangani siswa-siswi korban pergaulan metropolis dengan pendekatan kultural, kekeluargaan dan pendalaman psykologis anak, dengan bantuan do'a para santri di Pondok Pesantren ini santri yang bermasalah didoakan sesering mungkin di waktu waktu ijabah do'a.

Semoga bisa membantu & bermanfaat
Islamic & Cultural Boarding School @***



Senin, 09 Maret 2015

Bagaimanakah Cara Mendidik Anak Nakal agar Menjadi Baik?

PENDIDIKAN-memang tidak mudah dan memerlukan sedikit usaha ekstra jika dibandingkan dengan mendidik anak yang memiliki kepribadian yang biasa- biasa saja bahkan lebih cenderung mudah diatur. Dalam penerapannya, banyak sekali orang tua yang tidak mampu sabar dalam mengendalikan anak yang nakal dan mereka cenderung melakukan kekerasan kepada anak sebagai salah satu solusi terbaik dalam mendisiplinkan anak yang nakal. Sebagian besar orang tua mungkin menganggap bahwa hal ini merupakan hal yang benar, namun apakah demikian? Benarkah mendidik anak yang nakal dengan jalan kekerasan akan membuat mereka menjadi lebih disiplin? Jawabannya tentu tidak. Mendisiplinkan anak yang nakal dengan jalan kekerasan justru akan membuat anak semakin tidak takut dengan siapapun, bahkan cenderung menjadi bandel. Dalam hal ini, orang tua harus menerapkan cara yang berbeda dalam menghadapi anak yang nakal namun bukan dengan jalan melakukan kekerasan seperti main pukul terhadap anak, karena hal tersebut akan berdampak sangat buruk pada pertumbuhan anak. Untuk mendisiplinkan anak yang nakal. Terdapat beberapa cara yang perlu diterapkan agar anak mnjadi disiplin dan sembuh dari kenakalannya. Setiap orang tua tentu menginginkan anaknya yang nakal menjadi disiplin, bukan? Hal ini karena memiliki anak yang nakal terkadang membuat orang tua depresi karena merasa salah dalam mendidik anak.
 Disadari atau tidak, penyebab anak menjadi penurut atau bahkan menjadi nakal memang sedikit banyak terjadi karena campur tangan orang tua dalam menerapkan pola asuh kepada anak. Untuk itu, bagi para rang tua khususnya para ibu yang memiliki anak yang nakal, hendaknya kita harus siap dan lebih sabar dalam mengembalikan kepribadian anak menjadi pribadi yang disiplin yang taat. Lantas bagaimanakah cara mendidik anak yang nakal agar mereka mamp menjadi anak yang patuh dan disiplin sehingga dapat membanggakan kedua orang tuanya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kali ini kita akan membahas mengenai seputar anak yang nakal, penyebab anak menjadi nakal serta bagaimana cara mengatasi anak yang nakal sehingga mereka dapat kembali menjadi anak yang disiplin dan patuh terhadap kedua orang tuanya.
Sebelum mengetahui cara mendidik anak yang nakal, pertama kali yang harus diketahui oleh orang tua adalah dengan mencari tahu apa yang menjadi penyebab sang anak menjaid nakal.  Terdapat beberapa sebab mengenai anak yang tumbuh menjadi anak yang nakal pada usia- usia tertentu yang pada awalnya mereka sebenarnya adalah anak yang baik. Di antara sebab- sebab tersebut antara lain adalah sebagai berikut:
  1. Ketika masih bayi atau berusia sekitar di bawah lima tahun, anak sudah dibiasakan oleh orang tua dengan menuruti semua kemauan anak. Hal ini sering terjadi terutama bagi orang tua yang tidak tega melihat anakanya menangis sehingga mereka lebih memilih untuk menuruti apa yang  diinginkan sang anak. Dengan memanjakan anak seperti ini, secara tidak langsung orang tua tengah mendidik anak menjadi anak yang semua keinginannya harus dipenuhi dan jika tidak, mereka akan mengancam kedua orang tuanya dengan mengeluarkan jurus andalan, yakni menangis. Hal inilah yang membuat sang anak tumbuh menjadi pribadi yang nakal ketika mereka memasuki usia pra sekolah. Mereka akan senang merengek dan tak jarang dari mereka yang berteriak- teriak meminta dibelikan sesuatu tanpa mempedulikan kondisi orang tua saat itu. Yang terpenting adalah kebutuhannya, apapun keadaannya. Dengan membiasakan anak dimanja sejak kecil, akan menumbuhkan pribadi yang egois.
  2. Orang tua tidak menegur sang anak bahkan cenderung mentertawai mereka pada saat mereka mengucapkan kata- kata yang tidak patut. Hal ini tak jarang pula terjadi pada masyarakat kita terutama dari kalangan orang tua yang kurang berpendidikan. Mereka cnderung membiarkan dan mentertawakan anak mereka ketika anak- anak mereka berkata yang tidak sopan dan bahkan berkata- kata kotor. Dengan sikap orang tua yang seperti itu, maka anak akan menganggap bahwa apa yang ia lakukan bukanlah suatu kesalahan sehingga anak akan cenderung mengulangi perkataan- perkataan tersebut sehingga akan terbawa sampai ia dewasa. Melakukan pembiaran terhadap fenomena ini akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang arogan dan tidak memiliki tata krama.
  3. Kurangnya penerapan pelajaran ruhani kepada sang anak. Sebagai orang tua, tentu kita semua tahu bahwa agama merupakan satu- satunya pegangan hidup yang mampu menuntun seseorang untuk menuju ke arah yang lebih baik. Hal ini perlu ditanamkan kepada anak sejak dini. Apabila anak tidak diperkenalkan mengenai agama semenjak ia masih kecil, maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang tak terkendali sehingg tak jarang dari mereka yang tumbuh menjadi anak yang nakal.
  4. Terlalu sering bertengkar di hadapan sang anak juga merupakan salah satu faktor utama anak tumbuh menjadi anak yang nakal. Kejadian ini sering dialami oleh orang tua yang memiliki kehidupan rumah tangga yang kurang harmonis dimanamereka terlalu sering brtengkar di hadapan sang anak sehingga sang anak berpikir bahwa keluarga mereka dipenuhi dengan kebencian- kebencian yang mengakibatkan sang anak menjadi berontak sebagai bentuk protes terhadap perilaku kedua orang tuanya. Apabila kita mengamati anak- anak di sekitar kita yang kedua orang tuanya memiliki kehidupan rumah tangga yang kurang harmonis, maka hal ini sering kita jumpai pada anak- anak mereka.
  5. Terlalu sering memberikan uang saku yang berlebihan kepada sang anak dan memfasilitasi mereka dengan hal- hal yang sesungguhnya tidak terlalu mereka butuhkan juga menjadi penyebab utama sang anak tumbuh menjadi pribadi yang nakal. Hal ini biasanya terjadi di kota- kota besar yang mana anak tumbuh di dalam sebuah keluarga yang kedua orang tuanya merupakan orang- orang yang fokus pada karir. Orang tuasemacam itu cenderung memfasilitasi anak- anaknya dengan segala kelebihan dan kecukupan dengan menganggap bahwa mereka tidak membutuhkan kasih sayang dengan terpenuhinya hal- hal tersebut. Padahal, membiasakan anak dengan barang mewah justru akan membuat mereka tumbuh menjadi pribadi yang kurang memiliki jiwa sosial dan tak jarang dari mereka akan tumbuh menjadi anak yang nakal dan tak terkendali.
Kelima faktor di atas merupakan beberapa dari sekian banyak faktor yang dapat menyebabkan anak menjadi nakal. Setelah mengetahui beberapa faktor yang membuat anak tumbuh menjadi anak yang nakal, maka langkah orang tua selanjutnya adalah dengan mulai menghentikan kebiasaan yang menjadi penyebab anak menjadi nakal tersebut dengan menerapkan beberapa cara mendidik anak nakal. Perlu diingat bahwa mengembalikan anak nakal menjadi penurut tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, terlebih ketika mereka masih berusia anak- anak. Untuk itu, terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh oleh orang tua dalam mengatasi anak- anak yang nakal (NET).***

Rabu, 18 Februari 2015

FRUSTASI NGURUSI ANAK NAKAL?

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

1. Fenomena Kenakalan Anak

Fenomena ini merupakan perkara besar yang cukup memusingkan dan menjadi beban pikiran para orangtua dan pendidik, karena fenomena ini cukup merata dan dikeluhkan oleh mayoritas masyarakat, tidak terkecuali kaum muslimin.

Padahal, syariat Islam yang sempurna telah mengajarkan segala sesuatu kepada umat Islam, sampai dalam masalah yang sekecil-kecilnya, apalagi masalah besar dan penting seperti pendidikan anak.

2. Sebab kenakalan anak menurut aturan Islam

Termasuk sebab utama yang memicu penyimpangan akhlak pada anak, bahkan pada semua manusia secara umum, adalah godaan setan yang telah bersumpah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menyesatkan manusia dari jalan-Nya yang lurus.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
“Iblis (setan) berkata, ‘Karena Engkau telah menghukumi saya tersesat, sungguh saya akan menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat kepada-Mu).’”
(QS. Al-A’raf: 16-17).
Dalam upayanya untuk menyesatkan manusia dari jalan yang benar, setan berusaha menanamkan benih-benih kesesatan pada diri manusia sejak pertama kali mereka dilahirkan ke dunia ini, untuk memudahkan usahanya selanjutnya setelah manusia itu dewasa.
Di samping sebab utama di atas, ada faktor-faktor lain yang memicu dan mempengaruhi penyimpangan akhlak pada anak, berdasarkan keterangan dari ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pertama, pengaruh didikan buruk kedua orangtua

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Semua bayi (manusia) dilahirkan di atas fithrah (kecenderungan menerima kebenaran Islam dan tauhid), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya (beragama) Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Hadits ini menunjukkan bahwa semua manusia yang dilahirkan di dunia memiliki hati yang cenderung kepada Islam dan tauhid, sehingga kalau dibiarkan dan tidak dipengaruhi maka nantinya dia akan menerima kebenaran Islam. Akan tetapi, kedua orang tuanyalah yang memberikan pengaruh buruk, bahkan menanamkan kekafiran dan kesyirikan kepadanya.

(Di antara contoh pengaruh buruk tersebut adalah) jika seorang ibu tidak memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), tidak menjaga kehormatan dirinya, sering keluar rumah (tanpa ada alasan yang dibenarkan agama), suka berdandan dengan menampakkan (kecantikannya di luar rumah), senang bergaul dengan kaum lelaki yang bukan mahram-nya, dan lain sebagainya, maka ini (secara tidak langsung) merupakan pendidikan (yang berupa) praktik (nyata) bagi anaknya, untuk (mengarahkannya kepada) penyimpangan (akhlak) dan memalingkannya dari pendidikan baik yang membuahkan hasil yang terpuji, berupa (kesadaran untuk) memakai hijab (pakaian yang menutup aurat), menjaga kehormatan dan kesucian diri, serta (memiliki) rasa malu. Inilah yang dinamakan ‘pengajaran pada fitrah (manusia)’.”
Kedua, pengaruh lingkungan dan teman bergaul yang burukRasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Perumpamaan teman duduk (bergaul) yang baik dan teman duduk (bergaul) yang buruk (adalah) seperti pembawa (penjual) minyak wangi dan peniup al-kiir (tempat menempa besi). Maka, penjual minyak wangi bisa jadi memberimu minyak wangi atau kamu membeli (minyak wangi) darinya, atau (minimal) kamu akan mencium aroma yang harum darinya. Sedangkan peniup al-kiir (tempat menempa besi), bisa jadi (apinya) akan membakar pakaianmu atau (minimal) kamu akan mencium aroma yang tidak sedap darinya.”

Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan duduk dan bergaul dengan orang-orang yang baik akhlak dan tingkah lakunya, karena adanya pengaruh baik yang ditimbulkan dengan selalu menyertai mereka. Hadits tersebut sekaligus menunjukkan larangan bergaul dengan orang-orang yang buruk akhlaknya dan pelaku maksiat karena pengaruh buruk yang ditimbulkan dengan selalu menyertai mereka.
Ketiga, sumber bacaan dan tontonan
Pada umumnya, anak-anak mempunyai jiwa yang masih polos, sehingga sangat mudah terpengaruh dan mengikuti apa pun yang dilihat dan didengarnya dari sumber bacaan atau berbagai tontonan.
Oleh karena itulah, metode pendidikan dengan menampilkan contoh figur untuk diteladani adalah termasuk salah satu metode pendidikan yang sangat efektif dan bermanfaat.
Beberapa contoh cara mendidik anak yang nakal

Syariat Islam yang agung mengajarkan kepada umatnya beberapa cara pendidikan bagi anak yang bisa ditempuh untuk meluruskan penyimpangan akhlaknya. Di antara cara-cara tersebut adalah:

Pertama, teguran dan nasihat yang baikIni termasuk metode pendidikan yang sangat baik dan bermanfaat untuk meluruskan kesalahan anak. Metode ini sering dipraktikkan langsung oleh pendidik terbesar bagi umat ini, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, misalnya ketika beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang anak kecil yang ketika sedang makan menjulurkan tangannya ke berbagai sisi nampan makanan, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai anak kecil, sebutlah nama Allah (sebelum makan), dan makanlah dengan tangan kananmu, serta makanlah (makanan) yang ada di hadapanmu.“

Serta dalam hadits yang terkenal, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada anak paman beliau, Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Wahai anak kecil, sesungguhnya aku ingin mengajarkan beberapa kalimat (nasihat) kepadamu: jagalah (batasan-batasan/ syariat) Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan/ syariat) Allah maka kamu akan mendapati-Nya dihadapanmu.” .
Demikianlah bimbingan yang mulia dalam syariat Islam tentang cara mengatasi penyimpangan akhlak pada anak, dan tentu saja taufik untuk mencapai keberhasilan dalam amalan mulia ini ada di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, banyak berdoa dan memohon kepada-Nya merupakan faktor penentu yang paling utama dalam hal ini.
Rujukan :
Lihat Tafsir Ibnu Katsir: 4/482.
HSR. Muslim, no. 262HSR. Muslim, no. 2865HSR. Muslim, no. 2367HSR. Bukhari no. 1319, dan Muslim no. 2658Lihat kitab ‘Aunul Ma’bud: 12/319–320HSR. Bukhari no. 5214, dan Muslim no. 2628HSR. Bukhari no. 5061, dan Muslim no. 2022
Sumber : http://ppgaceh.blogspot.com/2013/05/penyebab-anak-nakal-dan-cara.html
                                                                                                                                                        (Sumber: Net)

Senin, 19 Januari 2015

ANAK NAKAL, ORANG TUA & SOLUSI BAGI MEREKA



Apa Yang membuat Anak Bisa berubah menjadi Baik?

Pendidikan Itu penting
TAUSIYAH-Tidak akan pernah ada orang tua yang menginginkan anaknya tidak berhasil atau sukses walaupun keberhasilan dan kesuksesan anak itu sangat relative, setidaknya Orang tua di rumah sering dihadapkan dengan anak-anaknya yang ‘dianggap’ nakal kelewat batas. Sebenarnya kenakalan anak tersebut separah apa?
Anak boleh anda sekolahkan di Sekolah-Sekolah Unggulan dengan program dan biaya yang hebat luar biasa tapi anda tetap tidak pernah terpuaskan ada saja yang membuat anda sebagai orang tua menjadi pusing tujuh keliling. Anak Pulang larut malam, mengurung diri didalam kamar, candu terhadap rokok, game online bahkan bergabung dengan anak-anak gerombolan bermotor hingga boros & semua membuat anda nyaris frustasi & putus asa
Perlawanan anak darah daging anda tidak tanggung-tanggung. Dari kata-kata kasar hingga mengancam keluarga sendiri. Ada yang membuat anda tertegun dengan perjalanan hidup seorang bapak dan ibu yang ingin anaknya menjadi baik seperti anak tetangga (misalnya). Sopan, pergi pulang sekolah tepat waktu,  tidak boros, mau membantu orang tua dan seribu kebaikan lainnya.
Kamu ini mau jadi apa nak? Kamu ini harus masuk pesantren nak!, kamu itu…. Kamu itu.. dan sejuta kalimat harapan yang berharap di dengar oleh anak kita sendiri. Sementara anak kita cuek-bebek dengan dunianya.
Adakah yang Salah?
Kasus ini banyak terjadi di banyak masyarakat kota dengan lingkungan metropolis, masyarakat yang disibukkan dengan dunia kerja pagi pulang petang hingga anak tak mendapat sentuhan pendidikan orang tua. Terlalu mempercayai sekolah untuk merubah sifat, karakter kurang baik anak-anak kita kepada guru-gurunya namun tidak mengevaluasi lingkungan anak sepulang sekolah. So What ?So Why, How?
Anak kita adalah darah daging kita, semua sifat yang dimiliki bapak dan ibunya diyakini aka nada yang menitis kepada anak-anak kita jika tidak factor lingkungan akan sangat besar mempengaruhi seorang anak. Apa yang mereka baca, Siapa teman mereka & dimana dia tinggal akan memberikan budaya hidup anak-anak anda
Memulai dengan do’a & Merubah Sikap diri kita Sendiri
Orang tua yang baik bukan hanya ingin anaknya berubah baik dengan Sekolah atau pesantren tetapi Bapak & Ibunya sendiri telah memiliki ‘nawaitu’ merubah diri sedikit demi sedikit tentang kekurangan dlam segala hal. Apa yang pernah dilakukan secara salah di taubati dan meminta pada ALLOH SWT agar sifat tidak baik kita tidak menitis pada keturunan kita sendiri. Sekolah, Pesantren dan lembaga apapun yang berkompeten untuk mendidik anak-anak anda hanyalah mesin dengan metode, cara, tekhnis yang berjalan dari aspek teori praktek. Tapi Hubungan Bapak/Ibu ke Anak lebih prinsipil secara bathin, maka berbicaralah pada ALLOH SWT tentang keinginan kita melalui do’a dan shalat selanjutnya lakukan pengawasan dan evaluasi pada pendidikan anak anda, dekatlah kepada anak-anak anda dalam salah atau benarnya agar mereka mau berbicara. Jangan menghakimi, menyumpah serapah atau berbicara yang tidak pantas, karena semua akan berdampak negative
Di Pondok Pesantren Darul Falah yang sederhana ini kami membawa pada situasi yang memungkinkan anak-anak anda berubah menjadi lebih baik secara lebih cepat @bersambung

Selasa, 13 Januari 2015

TALI IKATAN BATHIN ANAK KE ORANG TUA SANGAT ERAT

Pengajian Orangtua Santri
Study-Kasusnya adalah anak ditinggal di Pesantren berbulan-bulan tak mendapat biaya apapun, tak dibekali uang, pakaian & perlengkapan belajar lainnya. Orang Tua hidup asyik dengan kehidupannya sendiri padahal anaknya sedikit demi sedikit berubah menjadi baik ataupun semakin baik. Anak merasa teranaktirikan dan tertinggal dalam segala hal di Pesantren yang mengakibatkan rasa minder berlebih dan mengakibatkan anak tersebut berulah lari dari Pesantren. Permasalahannya bukan karena tidak ada yang menanggung biaya tapi ikatan bathin Bapak & Ibu kepada anaknya begitu kuat yang bisa berdampak langsung terhadap prilaku anak tadi. Karenanya bukan hanya anaknya yang belajar shalat tapi Ibu & bapaknya juga harus terus berubah menjadi baik & Lebih baik@insya alloh berkah